Jangan Kuliah Kalau Hanya untuk Cari Kerja

images-3-59bf07b99ed7db6a0c50a754
Sumber foto: https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2017/09/18/images-3-59bf07b99ed7db6a0c50a754.jpg

Bekasi, 04 Juli 2018

Di negara berkembang seperti Indonesia, pendidikan masih dipandang sebagai satu-satunya jalan memperbaiki taraf hidup.

Enggak percaya?

Coba lihat pendapat-pendapat masyarakat umum, yang masih memilih sekolah atau disiplin ilmu, berdasarkan angan-angan pekerjaan yang bakal ia peroleh di masa depan.

Mau hidup makmur? Jadilah insinyur. Maka kamu harus masuk ke jurusan-jurusan berbau teknik dan eksak.

Maka kamu harus masuk jurusan IPA atau Sekolah SMK. Dan melanjutkan pendidikan di Fakultas Teknik dan Kearsitekturan.

Jika tidak beruntung, kamu bisa pilih jurusan disiplin ilmu lain yang marketable.

Silahkan pilih jurusan akutansi, ekonomi pembangunan, atau yang lainnya. Asal jangan jurusan ilmu budaya.

Pendapat saya tentu bisa salah.

Tapi saya mempunyai sedikit alasan yang masuk akal setelah pada medio 2009 silam, seorang dosen dari sebuah kampus Islam di Jawa Tengah, dengan entengnya menyuruh saya meninggalkan disiplin Ilmu Sejarah yang saya pilih.

Alih-alih menyemangati saya yang mahasiswa baru, ia malah menyuruh saya pindah ke jurusan yang ‘lebih diterima’ pasar seperti ekonomi atau komputer.

“Dosen macam apa ini,” gerutu saya dalam hati.

Bagi saya, melanjutkan sekolah di pendidikan tinggi bukan sekadar perkara ‘setelah lulus mau kerja apa?’.

Rasanya sangat lucu jika kita mengkerdilkan peran perguruan tinggi menjadi sebatas pencetak tenaga-tenaga kerja, yang  suka lembur bagai kuda, dengan kemeja-kemeja necisnya.

Perguruan Tinggi mestinya dipandang sebagai sebuah institusi yang terhormat, yang mampu menghindarkan generasi pelajar  Indonesia dari penyakit malas berpikir dan suka berkomentar.

Jadi, lebih baik kamu tidak kuliah, jika dari awal pendaftaran sudah memikirkan dan mengidamkan sebuah pekerjaan yang mapan dengan gaji puluhan juta per bulan.

Advertisements